Beranda | Artikel
Mengenal Tauhid [Bagian 38]
Kamis, 15 Februari 2018

Bismillah.

Alhamdulillah kita kembali dipertemukan untuk bersama-sama memetik faidah dari Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah. Pada bagian sebelumnya kita telah membahas seputar pentingnya dakwah tauhid dan hal-hal yang hendaknya dimiliki oleh seorang yang berdakwah.

Dakwah merupakan tugas dan kewajiban yang sangat agung. Karena dengan dakwah inilah manusia akan bisa mengenal kebenaran dan menjauhi kebatilan. Akan tetapi seorang yang berdakwah harus melakukan dakwahnya ikhlas karena Allah, sebab dakwah adalah ibadah dan ibadah tidak diterima tanpa keikhlasan. Hal ini perlu untuk terus kita ingat dan nasihatkan.

Penarikan Kesimpulan Yang Mengagumkan

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam sebuah video ceramahnya yang membahas urgensi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memberikan sebuah contoh pelajaran dakwah yang sangat agung.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa di dalam Kitab Tauhid-nya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah membawakan sebuah bab khusus yang membahas tentang keutamaan dakwah tauhid. Salah satu keutamaan dakwah tauhid itu adalah bahwa ia merupakan jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/ilmu yang nyata. Inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Yusuf : 108)

Dari ayat tersebut, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menarik sebuah kesimpulan berharga, bahwasanya seorang yang berdakwah hendaklah ikhlas di dalam dakwahnya; karena banyak orang yang berdakwah sebenarnya mengajak manusia kepada dirinya sendiri, bukan kepada agama Allah. Ini adalah sebuah pelajaran tauhid yang sangat berharga untuk kita…

Dakwah tauhid adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Tentu ibadah yang agung ini yaitu dakwah tidak akan diterima oleh Allah apabila pelakunya tidak ikhlas karena-Nya.

Allah berfirman dalam hadits qudsi, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara Aku dengan selain-Ku, Aku akan tinggalkan dia bersama syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Bagaimana bisa seorang yang mengajak kepada tauhid dan keikhlasan justru menjadi orang yang mencampuri niatnya dalam beramal dan berdakwah demi mencari kepentingan-kepentingan duniawi yang semu dan sementara?! Ikhlas dalam berdakwah adalah perkara yang membutuhkan latihan dan perjuangan. Sebab hawa nafsu manusia cenderung cinta kepada sanjungan, haus pujian, dan lapar terhadap popularitas. Berbeda dengan tabiat orang yang ikhlas yang selalu berusaha untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebisa mungkin.

Lihatlah apa yang dilakukan para ulama hadits kita terdahulu dan yang sekarang… Mereka adalah orang-orang yang berjasa besar kepada umat manusia. Seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama salaf, “Para malaikat adalah penjaga langit, sedangkan ahli hadits adalah penjaga bumi.”

Para ulama hadits mengisi hembusan nafasnya dengan kalimat-kalimat dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka nukilkan kepada generasi sesudahnya hadits-hadits tanpa memelintir makna dan maksudnya menurut hawa nafsu mereka. Oleh sebab itu karya para ulama hadits penuh dengan berkah di sepanjang masa. Bukan karena mereka menjunjung tinggi akal, perasaan dan pendapat-pendapatnya; akan tetapi karena mereka meriwayatkan sabda-sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.

Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Imam Nawawi dengan Hadits Arba’in-nya, dengan Riyadhush Shalihin-nya, dan para ulama-ulama sebelum beliau seperti Imam Bukhari dengan kitab Sahih-nya dan Imam Muslim dengan Sahih-nya pula…

Lihatlah pula apa yang dilakukan oleh para ulama hadits ketika menyampaikan hadits dalam majelis-majelis mereka. Sebagian mereka mengatakan, bahwa terkadang sebuah hadits itu membutuhkan berkali-kali pelurusan niat. Sebab terkadang niat itu berubah-ubah. Bahkan mereka dengan rendah hati menuturkan, “Dahulu kami menimba ilmu bukan murni karena Allah. Akan tetapi ilmu enggan kecuali menyeret kami agar selalu ikhlas karena Allah.”

Sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah. Maka bagaimana lagi seorang yang menisbahkan diri sebagai juru dakwah…

Ikhlas dan Mutaba’ah

Diantara kaidah penting yang harus dipahami oleh setiap penggerak dakwah -bahkan oleh setiap muslim- adalah bahwa agama Islam ini dibangun di atas dua pondasi yang agung; yaitu ikhlas kepada Allah dan mutaba’ah kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya secara hanif…” (al-Bayyinah : 5). Demikian pula sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal itu akan dinilai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam ayat lain, Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Seorang ulama salaf bernama Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan bahwa yang dimaksud terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas ialah apabila amal itu dikerjakan karena Allah, sedangkan benar apabila sesuai dengan sunnah/tuntunan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunan/ajarannya dari kami pasti akan tertolak.” (HR. Muslim).

Berkaitan dengan kaidah ini, maka manusia bisa digolongkan menjadi empat macam :

Pertama; orang yang ikhlas dan mengikuti tuntunan

Kedua; orang yang tidak ikhlas dan juga tidak mengikuti tuntunan

Ketiga; orang yang ikhlas tetapi tidak sesuai tuntunan

Keempat; orang yang sesuai dengan tuntunan tetapi tidak ikhlas dalam beramal

Oleh sebab itu ikhlas dan mutaba’ah merupakan pondasi utama dalam meniti jalan yang lurus. Jalan yang telah ditempuh oleh para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Inilah jalan Allah yang wajib diikuti, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan sesungguhnya yang Kami perintahkan ini adalah Jalan-Ku yang lurus, ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena hal itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (al-An’am : 153)

Kaidah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus ikhlas kepada Allah dalam hal ibadah, dalam ucapan, perbuatan, niat dan kehendak. Selain itu kita juga harus selalu mengikuti tuntunan dan jalan yang ditempuh oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal perilaku, manhaj dan ibadah. Inilah jalan Islam yang diserukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan jalan agama-agama yang menyimpang semacam Yahudi dan Nasrani. 

Hal ini juga memberikan faidah kepada kita bahwasanya agama ini ditegakkan dengan tuntunan dan syari’at bukan berdasarkan pendapat akal yang dibuat-buat oleh manusia. Setiap ajaran dalam agama ini yang tidak bersumber dari tuntunan Allah dan rasul-Nya maka itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. Di sisi lain, kita tidak boleh terpedaya oleh bentuk lahiriah amalan yang sesuai dengan tuntunan, sebab yang menjadi patokan pula adalah niat dalam beramal; apakah amal itu ikhlas karena Allah ataukah tidak. Sehingga amal yang bermanfaat adalah yang memenuhi dua syarat itu; yaitu ikhlas dan mengikuti tuntunan.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa setiap da’i -bahkan setiap muslim- harus berusaha untuk mempelajari agama Islam ini agar amal-amalnya sesuai dengan tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain itu ia harus membersihkan hatinya dari hal-hal yang merusak keikhlasan dalam beramal. Wallahul muwaffiq. # Rujukan : al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi Tarbiyah wal Ishlah karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Ubailan hafizhahullah (hal. 1-18)

Akibat Tidak Ikhlas

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menceritakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah: [Pertama] Seorang lelaki yang telah berjuang mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

[Kedua] Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

[Ketiga] Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, sehingga dia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim [1905])

Hadits ini menunjukkan bahwa dalil-dalil umum yang menyebutkan keutamaan jihad itu hanya berlaku bagi orang yang berjihad secara ikhlas. Demikian pula pujian-pujian yang ditujukan kepada ulama dan orang yang gemar berinfak dalam kebaikan hanyalah dimaksudkan bagi orang-orang yang melakukannya ikhlas karena Allah (lihat Syarh Muslim [6/531-532])

Demikian sedikit catatan yang bisa disajikan dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat bagi kita dalam meniti jalan kebenaran dan meraih ridha ar-Rahman.

Wallahul musta’aan.

# Penyusun : www.al-mubarok.com


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/mengenal-tauhid-bagian-38/